Skip to main content

Kesulitan Menyusu pada Bayi Baru Lahir

 

            Menyusui merupakan salah satu moment yang paling momerable dalam proses pengasuhan anak. Setiap ibu tentulah memiliki pengalaman dan kesulitan tersendiri dalam proses menyusui sang buah hati terutama pada masa awal kehidupan bayi. Sepanjang perjalanan saya meng-ASI-hi, kesulitan yang paling sulit untuk dihadapi adalah saat anak saya yang baru lahir tidak mau menyusu.

Penyebab Bayi Tidak Mau Menyusu

            Pada dasarnya, semua bayi yang baru lahir memerlukan waktu untuk bisa beradaptasi dengan puting ibu sebelum mereka dapat menyusu dengan baik. Namun ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan bayi lainnya lebih sulit untuk beradaptasi seperti tidak dilakukannya proses IMD, kelainan pada kondisi puting ibu atau berat badan lahir bayi yang rendah

            Anak saya, Dirga, lahir pada usia kandungan 37 minggu dengan berat badan 2.77 kg dan tinggi 45,7 cm. Dirga lahir dengan kondisi terlalu lama berada di dalam panggul yang menyebabkan adanya gangguan pada pernafasan sehingga menurut dokter kandungan saya, IMD tidak dapat dilakukan. Gangguan pernafasan yang terjadi menyebabkan Dirga berada di ruang observasi dalam waktu yang lebih lama sehingga kontak skin to skin antara saya dan Dirga baru dapat dilakukan sehari setelah Dirga lahir.

            Menurut dokter anak kami, tidak dilakukannya IMD dan kontak skin to skin yang tidak dilakukan dengan segera  dapat menjadi salah satu penyebab keterlambatan Dirga dalam memperoleh keterampilan untuk menyusu. Dirga sering tidak merespon saat ditawarkan susu bahkan saat menangis, Dirga hanya bisa menyedot sebentar lalu melepaskan puting dan menangis lebih keras. Padahal, Dirga lahir dengan berat badan nomal dan tidak ada masalah dengan kondisi puting dan produksi ASI.

Dehidrasi Akibat Tidak Menyusu

            Keterampilan Dirga untuk menyusu masih belum membaik sampai beberapa hari sejak kelahirannya. Karena keterbatasan pengetahuan saya, Dirga pun tidak diberikan ASI melalui media apapun selama mengalami kesulitan menyusu sehingga kondisi Dirga memburuk. Pada hari ketiga. Dirga mengalami kenaikan bilirubin dan penuruan berat badan di luar batas normal. Dirga pun terlihat lemas dan mengalami penurunan frekuensi buang air kecil yang merupakan tanda-tanda dehidrasi sehingga Dirga memerlukan perawatan intesif di Ruang Perina 

  Langkah-langkah Pengobatan pada Dirga

              Karena kondisi Dirga yang memburuk, Dirga memerlukan perawatan intensif untuk menstabilan kondisinya. Berikut beberapa langkah pengobatan yang dilakukan setelah Dirga mengalami dehidrasi :

1.   Perawatan di Ruang Perina

Perawatan yang dilakukan di ruang Perina adalah perawatan sinar untuk memecah bilirubin sehingga kadarnya dalam tubuh dapat dikurangi. Dokter anak kami mengatakan bahwa sebetulnya kenaikan bilirubin pada bayi adalah hal yang wajar karena fungsi hati bayi belum bekerja dengan optimal. Kelebihan kadar bilirubin pun secara alami dapat dikeluarkan oleh tubuh melalui air seni sehingga kadar bilirubin dalam tubuh dapat berkurang dengan sendirinya. Namun, kenaikkan bilirubin diluar batas normal dapat menyebabkan bayi menjadi lemas sehingga bayi cenderung tertidur lama dan malas menyusu. Kenaikkan bilirubin ini pula lah yang memperburuk kondisi Dirga yang dari awal mengalami kesulitan untuk menyusu.

                        Selama berada di ruang Perina, Dirga diberikan ASIP setiap tiga jam sekali melalui cup feeder oleh para perawat yang bertugas. Sebelum diberi ASIP, Dirga dibiarkan menempel pada puting dan dibiarkan melakukan kontak skin to skin dengan saya selama 15 – 30 menit untuk memperkuat ikatan antara bayi dan ibu sehingga di kemudian hari Dirga diharapkan mampu menyusu secara langsung dengan baik.

                         Setelah empat hari menjalani perawatan di ruang Perina, kadar bilirubin Dirga kembali pada batas normal dan berat badan Dirga mengalami peningkatan sehingga Dirga dinyatakan dapat pulang dan melanjutkan perawatan di rumah.

2.   Pemberian ASIP secara Berkala

Setelah menyelesaikan perawatan di ruang Perina, Dirga tidak serta-merta mampu menyusu. Dirga masih lebih banyak tertidur sehingga perlu dibangunkan setiap tiga jam sekali untuk diberi ASIP. Pemberian ASIP ditargetkan sebanyak 65 ml setiap kali minum agar kondisi dehidrasi tidak terulang lagi dan berat badan Dirga dapat ditingkatkan. Kebutuhan jumlah ASI setiap anak berbeda-beda tergantung kondisi dan berat badannya. Dokter akan menginformasikan mengenai jumlah ASI yang perlu diberikan untuk menunjang pemulihan bayi.

Memberikan ASIP pada bayi yang masih lebih banyak tidur memang bukanlah hal yang mudah. Terkadang Dirga tidak mau menelan ASIP yang diberikan bahkan tidak mau terbangun pada saat jadwal pemberian ASIP. Diperlukan kesabaran saat melakukan proses ini agar ibu terhindar dari stress sehingga produksi ASI tetap baik. Oleskan ASI pada area mulut bayi untuk merangsang keinginan bayi untuk menyusu lalu gelitik lembut area telapak kaki agar bayi terbangun.

3.      Sounding dan Kontak Skin to Skin

Sebelum memberikan ASIP, saya tetap melakukan kontak skin to skin selama 15-30 menit seperti yang saya lakukan saat Dirga berada di ruang Perina. Selain kontak skin to skin, saya pun melakukan sounding kepada Dirga memintanya untuk bangun dan menyusu pada saya. Percayalah bahwa anak dan ibu memiliki koneksi alamiah, anak bisa merasakan apa yang dirasakan ibunya. Membisikkan kalimat positif dengan lembut dan sepenuh hati terbukti dapat meningkatkan keinginan Dirga untuk menyusu.  Pada hari ke lima pasca perawatan di Perina, Dirga tiba-tiba mampu menyedot dalam waktu kurang lebih 15 menit. Tidak seperti pada saat baru lahir, pada saat itu Dirga mampu menyedot dengan cukup kuat dan ASI pun terasa mengalir saat Dirga menyusu.

Direct Breast Feeding (DBF)

Meskipun sudah mampu untuk menyedot, Dirga masih tetap lebih banyak tertidur dan belum meminta ASI secara teratur sehingga Dirga masih perlu dibangunkan dan ditawarkan ASI secara berkala. Pada usia yang ke dua puluh hari, kondisi Dirga semakin membaik dan sudah sering terbangun untuk meminta susu. Setelah dokter anak kami menyatakan kondisi Dirga sudah stabil dan berat badan mengami kenaikkan seperti yang diharapkan, pemberian ASIP dihentikan dan diganti dengan sepenuhnya DBF.  

Selama permberian ASI, perlu dilakukan pemeriksaan tanda kecukupan ASI seperti frekuensi buang air kecil dan tanda kenyang bayi untuk memastikan jumlah ASI yang diminum sudah cukup. Pastikan pelekatan dilakukan dengan baik untuk menghindari lecet pada puting ibu dan proses menyusui berlangsung efektif.

Seperti yang disampaikan di atas bahwa kesulitan menyusu pada bayi adalah hal yang wajar terjadi karena bayi memerlukan adaptasi untuk bisa menyusu dengan baik. Hal yang perlu diperhatikan ketika bayi tidak mau menyusu adalah tanda-tanda dehidarasi seperti terlihat lemas dan berkurangnya frekuensi buang air kecil https://www.ibupedia.com/artikel/balita/5-cara-mengatasi-dehidrasi-pada-anak

Pompalah ASI ibu saat bayi belum dapat menyusu sehingga produksi ASI tetap terjaga. Beberapa tips mengenai cara memompa dan merk pompa ASI dapat diliat di website https://www.ibupedia.com/ .Kemudian, bangunkan bayi dan berikan ASIP secara teratur jika bayi masih belum bisa menyusu agar kondisi dehidrasi bisa dihindari. Jangan lupa lakukan sounding dan skin to skin contact untuk meningkatkan ikatan ibu dan bayi sehingga keinginan menyusu pada bayi ikut meningkat. Ibu bisa berkonsultasi dengan dokter laktasi saat terjadi kesulitan selama menyusui sehingga proses menyusui dapat berlangsung menyenangkan bagi ibu dan si buah hati.

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Menuntaskan Masalah Sembelit pada Balita

  Konstipasi atau sembelit merupakan kondisi saat frekuensi buang air besar terjadi hanya kurang dari tiga kali dalam seminggu dengan tekstur kotoran yang keras. Tidak hanya pada orangtua, sembelit sering pula terjadi pada anak-anak. Anak saya, Dirga, termasuk salah satu yang mengalaminya. Gambar 1. Sembelit pada Anak (sumber : dok pribadi) Dirga mengalami konstipasi saat usianya menginjak dua tahun kemudian memburuk pada usia tiga tahun. Awalnya frekuensi BAB Dirga terhitung normal, tiga kali dalam seminggu dengan tekstur kotoran yang tidak keras. Lama-lama, frekuensi menurun hingga satu kali seminggu bahkan pernah dalam dua belas hari tidak buang air besar. Sebagai catatan, Dirga tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan. Asupan serat Dirga pun cukup baik karena rutin makan buah dan sayur setiap hari. Dirga pun termasuk anak yang suka minum sehingga asupan air putih Dirga dapat dipastikan baik. Lalu, apa penyebab Dirga mengalami sembelit ? Setelah berkonsultasi den...