Konstipasi atau sembelit merupakan kondisi saat frekuensi buang
air besar terjadi hanya kurang dari tiga kali dalam seminggu dengan tekstur
kotoran yang keras. Tidak hanya pada orangtua, sembelit sering pula terjadi
pada anak-anak. Anak saya, Dirga, termasuk salah satu yang mengalaminya.
Gambar 1. Sembelit pada Anak
(sumber : dok pribadi)
Dirga mengalami konstipasi saat usianya menginjak dua tahun
kemudian memburuk pada usia tiga tahun. Awalnya frekuensi BAB Dirga terhitung
normal, tiga kali dalam seminggu dengan tekstur kotoran yang tidak keras.
Lama-lama, frekuensi menurun hingga satu kali seminggu bahkan pernah dalam dua
belas hari tidak buang air besar. Sebagai catatan, Dirga tidak memiliki riwayat
alergi terhadap makanan. Asupan serat Dirga pun cukup baik karena rutin makan
buah dan sayur setiap hari. Dirga pun termasuk anak yang suka minum sehingga
asupan air putih Dirga dapat dipastikan baik. Lalu, apa penyebab Dirga
mengalami sembelit ?
Setelah berkonsultasi dengan dokter anak spesialis gastro-hepatologi
di Bandung, kami menyimpulkan bahwa penyebab sembelit Dirga adalah kebiasan BAB
yang buruk. Dirga sering menunda keinginan untuk buang air besar dan sering BAB
dalam keadaan berdiri. Menurut pendapat dokter anak kami, penggunaan popok
sekali pakai (pospak) memungkinkan munculnya kebiasaan tersebut karena dengan
pospak beberapa anak merasa nyaman untuk BAB kapan saja dan dimana saja.
Ditambah lagi, usia tiga tahun merupakan masa saat anak senang bereksplorasi
dan bermain sehingga Dirga seringkali enggan menghentikan aktivitasnya saat
keinginan untuk BAB muncul.
Sembelit yang dialami Dirga sangat mempengaruhi kondisi emosinya.
Akibat kotoran yang keras, Dirga sering menangis dan ketakutan saat merasa
mulas dan memilih menahan keinginannya untuk BAB yang memperburuk kondisi
sembelitnya. Selain itu, nafsu makan Dirga tentu saja berkurang karena kondisi
perut yang tidak nyaman. Kondisi ini menyebabkan pengobatan perlu dilakukan
secara instensif. Alhamdulillah, setelah enam bulan menjalani
pengobatan, kondisi Dirga jauh membaik.
Apa saja langkah-langkah pengobatan yang kami lakukan untuk
menyembuhkan sembelit pada Dirga ? berikut saya rangkum dalam beberapa poin :
1. Evakuasi Tinja
Evakuasi tinja adalah langkah pengobatan yang dilakukan untuk
mengeluarkan kotoran yang menumpuk di dalam usus untuk memperlancar saluran
pembuangan. Saat memeriksakan Dirga ke dokter, Dirga dalam kondisi sudah tidak
buang air besar selama sepuluh hari sehingga saat bagian perut bawah Dirga
diraba, dokter mengatakan bahwa penumpukan kotoran Dirga dapat terasa. Dirga
diresepkan obat supp yang dimasukan ke dalam anus untuk
mengeluarkan kotoran yang menumpuk. Obat tersebut digunakan sebelum tidur malam
dengan frekuensi dua kali sehari selama tiga kali beturut-turut.
Pemberian obat supp ini memerlukan kerja sama
antara anak dan orangtua agar penggunaannya tidak menimbulkan rasa sakit dan
minim trauma. Dirga diberikan pengertian mengenai pentingnya obat ini dan
posisi yang harus dilakukan saat pemberian obat. Hal ini membuat Dirga rileks
dan tidak banyak bergerak, sehingga pemberian obat berjalan lancar.
2. Konsumsi Serat Tambahan
serta Pro dan Pre Biotik
Selain obat supp, obat lain yang diberikan oleh dokter
anak saya adalah serat tambahan yang dikonsumi sebanyak empat kali sehari. Obat
ini bertujuan untuk melunakkan tinja sehingga anak tidak merasa sakit dan tidak
perlu mengejan keras saat BAB. Obat ini memiliki rasa yang manis sehingga saya
tidak menemukan kesulitan dalam pemberiannya.
Obat lain yang diberikan adalah probiotik dan prebiotik yang
berbentuk serbuk. Penggunaan obat ini pun terhitung mudah karena pemberiannya
dapat dilakukan dengan melarutkannya ke dalam makanan atau minuman.
3. Menjaga
Asupan Makanan dan Minuman
Agar kondisi sembelit tidak terulang lagi maka asupan makanan dan
minuman perlu dijaga. Air putih dan makanan kaya serat seperti sayuran hijau
dan buah-buahan seperti pisang matang, pepaya matang serta buah-buahan kaya air
membantu kelancaran pencernaan Dirga. Pastikan sayuran dan buah-buahan tidak
diberikan berlebihan sesuai dengan porsi yang dianjurkan dokter.
4. Toilet Training
Salah satu kunci dalam menuntaskan kondisi sembelit pada anak
adalah posisi BAB yang baik dan waktu BAB yang teratur. Sesuai dengan arahan
dokter anak kami, Dirga tidak lagi menggunakan pospak dan dibiasakan untuk
jongkok di kloset selama lima menit setiap pagi dengan jangka waktu tiga puluh
menit setelah sarapan. Kebiasaan ini perlu dilakukan setiap hari secara
konsisten untuk meningkatkan refleks kerja usus sehingga di kemudian hari
terbentuk keinginan BAB pada waktu yang teratur.
Membiasakan anak untuk jongkok di kloset memang bukanlah hal yang
mudah. Terkadang Dirga menolak untuk melakukan kebiasaan ini karena enggan
menghentikan aktivitas bermainnya sehingga diperlukan sounding yang
terus menerus agar Dirga terbiasa. Sounding dilakukan
melalui pretend play dan buku-buku cerita mengenai toilet
training dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Terkadang Dirga
membawa mainannya untuk diajak berjongkok atau membawa sticker untuk
ditempel di dinding saat jongkok sehingga proses membangun kebiasaan
ini dilakukan dengan gembira dan minim paksaan.
Gambar 2. Buku Mengenai Toilet Training
(sumber : google)
Kesulitan lain yang dialami saat melakukan toilet training adalah
saat Dirga terlanjur BAB di celana. Hal tersebut adalah hal yang lumrah terjadi
pada tahap awal toilet training sehingga tidak diperlukan
reaksi berlebihan yang dikhawatirkan menyebabkan trauma pada anak. Alih-alih
bertanya apakah Dirga ingin BAB atau tidak saya memilih untuk mengingatkan
Dirga ke kamar mandi jika perutnya terasa mulas terutama saat Dirga terlihat
tiba-tiba diam dan mulai buang gas. Pada saat Dirga menginjak usia 3.5 tahun,
saya meminta Dirga untuk membantu saya membersihkan kotorannya sendiri saat
Dirga terlanjur BAB di celana. Cara ini membuat Dirga menyadari bahwa BAB di
celana adalah hal yang 'kotor' sehingga di kemudian hari memilih untuk segera
ke kloset saat keinginan untuk BAB muncul.
Proses
penyembuhan sembelit pada Dirga tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Bahkan
sembelit terkadang muncul kembali saat asupan makanan tidak terjaga dan
kebiasaan menahan BAB terulang lagi. Namun, dengan bertambahnya usia anak,
memberikan pengertian kepada anak mengenai pentingnya membangun kebiasaan BAB
yang baik menjadi lebih mudah. Para pembaca pun diharapkan untuk tidak panik berlebih
saat anak-anak mengalami sembelit karena seiring berjalan waktu kondisi
tersebut akan membaik selama langkah-langkah pengobatan dilakukan dengan
konsisten. Periksakan pula kondisi anak untuk mengetahui adanya intoleransi
makanan yang juga dapat menyebabkan terjadinya kondisi sembelit https://www.ibupedia.com/artikel/balita/penyebab-sembelit-pada-bayi-dan-cara-mengatasinya .
Beberapa tips lain mengenai sembelit pada usia lainnya dapat dibaca pada
website https://www.ibupedia.com/ .
Discalimer : Langkah-langkah pengobatan dan obat-obatan yang dikonsumsi Dirga
dilakukan berdasarkan saran dan resep dokter. Para pembaca pun diharapkan
berkonsultasi dengan dokter sebelum mengaplikasikan obat-obatan yang disebutkan
dalam artikel ini.


Comments
Post a Comment